Tampilkan postingan dengan label Ketat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ketat. Tampilkan semua postingan

Soal UN Terdistribusi Dijaga Ketat

Written By rayi dwiky putra on Kamis, 21 April 2011 | 11.39

JAKARTA, KOMPAS.com - Naskah ujian nasional (UN) SMA/SMK/MA di wilayah DKI Jakarta telah selesai didistribusikan ke seluruh Rayon, Minggu (17/4/2011). Tahap selanjutnya, naskah tersebut akan disesuaikan dengan data, dan kemudian disimpan di gudang penyimpanan di masing-masing Rayon.

"Kita telah menerima naskah UN dari Dinas DKI, setelah berita acara ditandatangani, dan dinyatakan lengkap maka akan kita sesuaikan dengan data," kata Kepala Rayon 15 DKI Jakarta, Sunarno, Minggu (17/4/2011), di Jakarta.

Sunarno menambahkan, demi menjamin keamanan pada naskah UN, pihaknya, dalam hal ini panitia di Rayon 15 telah siap dengan pengamanan ekstra. Selain didampingi petugas kepolisian, gudang penyimpanan tersebut juga dijaga oleh keamanan internal dan petugas piket yang berasal dari panitia Rayon.

"Naskah UN kami simpan di gudang dengan penjagaan dari polisi, keamanan internal dan petugas piket selama 24 jam. Semua sekolah kami libatkan dalam piket pengamanan ini," tambahnya.

Sementara untuk mekanisme pengambilannya, sambung Sunarno, utusan sekolah dapat mengambil naskah UN sesuai jadwal di setiap harinya mulai pukul 05.30 WIB. Ia memaparkan, sesuai petunjuk Teknis Peraturan Gubernur (Juknis Pergub), pihak sekolah diwajibkan menggunakan roda empat saat mengambil dan mengembalikannya. Rayon 15, yang berada di SMAN 54, terdiri dari 36 sekolah di kecamatan Jatinegara dan Duren Sawit. 36 sekolah tersebut berasal dari 11sekolah negeri dan 25 berasal dari sekolah swasta

"Untuk 36 sekolah tersebut, kami menerima 1.464 naskah soal dalam sampul besar, dan 312 sampul kecil," kata Sunarno. 


View the original article here

11.39 | 0 komentar | Read More

Mapolresta Cirebon Masih Dijaga Ketat

Written By rayi dwiky putra on Selasa, 19 April 2011 | 23.05

TWITTER via reWcuZ Garis polisi dipasang di sekitar Masjid Mapolresta Cirebon, Jumat (15/4/2011) setelah sebuah bom bunuh diri meledak dan melukai puluhan orang jemaah masjid yang sedang menunaikan shalat Jumat.

JAKARTA, KOMPAS.com - Penjagaan ketat masih terlihat di Mapolresta Cirebon, Jawa Barat, Minggu (17/4/2011), pasca bom bunuh diri di Masjid Adz Zikro, Kompleks Mapolresta Cirebon, Jumat (15/4/2011) lalu. Petugas berseragam lengkap dari Brimob Polda Jabar berjaga di depan pintu gerbang Mapolresta. Tidak ada seorang pun yang diperkenankan masuk ke dalam, termasuk wartawan.

Mapolresta hanya terbuka bagi anggota polisi dan pihak terkait. Sementara untuk pelayanan, dialihkan ke kepolisian sektor (polsek.

"Masih ditutup dulu, belum bisa masuk," ujar petugas Brimob yang berjaga di depan gerbang.

Peristiwa ledakan bom bunuh diri menelan satu korban tewas yang diduga sebagai pelaku bom dan 30 orang lainnya menderita luka ringan, sedang dan berat. Salah satu korban luka berat adalah Kapolresta Cirebon AKBP Herukoco. Pagi ini, Heru dibawa ke Jakarta untuk menjalani perawatan lanjutan di RS Pusat Pertamina, Jakarta.

Sementara itu, Mabes Polri akan merilis hasil tes DNA yang telah dilakukan terhadap warga Cirebon yang mengaku keluarga orang yang diduga pelaku bom. Hasil tes DNA akan diumumkan siang ini, sekaligus memastikan apakah pria yang tewas dengan tubuh hancur itu adalah M Syarif seperti diduga selama ini.

Seperti diberitakan, pelaku pengeboman diduga bernama Muhammad Syarif. Dia tercatat bertempat tinggal di RT 03 RW 06 Astana Garib Utara, Pekalipan, Kota Cirebon. Dia merupakan anak keempat dari delapan bersaudara. Orang tuanya Abdul Gafur dan Sri Mulat. Data tersebut didapat dari salinan Kartu Keluarga yang dipegang Ketua RT 03, Supandi. Polri juga telah merilis ciri-ciri pelaku, yakni berjenis kelamin laki-laki, ras mongoloid, golongan darah O, umur antara 25 dan 35 tahun, tinggi 181 cm, berat 70 kg, kulit kuning langsat, dan nomor sepatu 43 (10 inci). Sent Using Telkomsel Mobile Internet Service powered by

View the original article here

23.05 | 0 komentar | Read More